sederet kamus
Search Articles
Translate: Tutorial:

Apa Itu Sudut Pandang Naratif (Narrative Point of View)?

Narrative point of view atau sudut pandang naratif adalah sudut pandang yang digunakan oleh penulis untuk menceritakan narasinya. Point of view atau POV adalah “mata” dari sebuah cerita. Sederhananya, point of view menentukan siapa yang bercerita, apakah itu karakter dalam cerita atau bukan karakter dalam cerita tapi tahu semua yang terjadi di dalam cerita.

Terdapat tiga narrative point of view, yakni first person point of view, second person point of view, dan third person point of view. Mari kita lihat penjelasannya lebih detail di bawah ini:

  1. First person point of view

Pada cerita yang menggunakan first person POV atau sudut pandang orang pertama, satu karakter dalam ceritalah yang bercerita atau menarasikan ceritanya. Dengan kata lain, narator adalah salah satu tokoh dalam cerita.

First person POV ditandai oleh penggunaan kata ganti orang pertama (first person pronouns) dalam ceritanya. Adapun yang termasuk ke dalam kata ganti orang pertama, yakni:

    • I = Saya sebagai subjek
    • Me = Saya sebagai objek
    • My = Milik saya
    • We = Kita atau kami sebagai subjek
    • Us = Kita atau kami sebagai objek
    • Our = MIlik kita atau milik kami

Narator cerita yang menggunakan first person POV biasanya adalah tokoh protagonis atau tokoh utama. Meskipun demikian, narator juga bisa saja tokoh yang dekat dengan si tokoh utama.

First person POV dapat menyediakan intimasi dan penglihatan lebih dalam ke dalam pikiran tokoh tetapi juga dibatasi oleh kemampuan perseptif tokoh. Maksudnya adalah, narasi dengan menggunakan sudut pandang ini hanya terbatas pada apa yang dilihat dan dirasakan oleh tokoh saja. Hal-hal yang tidak dilihat dan dirasakan langsung oleh tokoh tidak dapat diceritakan kecuali tokoh lain memberi tahunya.

Contoh narasi dengan first person POV pada novel Great Expectations oleh Charles Dickens:

“As I never saw my father or my mother and never saw any likeness of either of them (for their days were long before the days of photographs), my first fancies regarding what they were like were unreasonably derived from their tombstone.”

  1. Second person point of view

Second person POV (sudut pandang orang kedua) adalah sudut pandang cerita yang sangat jarang digunakan terutama pada tulisan panjang seperti novel. Cerita dengan sudut pandang ini menggunakan second person pronouns “you” (Anda atau kamu) dan “your” (milik Anda atau milikmu).

Salah satu keuntungan menggunakan second person POV dalam cerita kita adalah pembaca bisa merasakan mereka bagian dari cerita karena narator menggunakan kata ganti “you” yang mana seakan-akan berbicara langsung kepada pembaca.

Contoh narasi dengan second person POV pada Bright Lights, Big City oleh Jay McInerney:

“You have friends who actually care about you and speak the language of the inner self. You have avoided them of late. Your soul is as disheveled as your apartment and until you can clean it up a little you don’t want to invite anyone inside.”

  1. Third person point of view

Pada cerita dengan third person POV (sudut pandang orang ketiga), narator ada di luar cerita dan menyebut tokoh cerita dengan third person pronouns (kata ganti orang ketiga) seperti he (dia laki-laki), she (dia perempuan), dan they (mereka). Third person POV dibagi ke dalam dua jenis, yaitu third person omniscient dan third person limited.

    • Third person omniscient

Kata omniscient” dalam bahasa Indonesia berarti “maha tahu”. Singkatnya, narator pada cerita dengan sudut pandang third person omniscient mengetahui segala sesuatunya dalam cerita, baik itu pikiran, perasaan, atau motif semua tokoh meskipun para tokoh tidak memberi tahu hal-hal tersebut kepada tokoh lainnya. Dengan kata lain, narator itu seperti Tuhan yang mengetahui segalanya yang terjadi di dalam cerita.

Contoh narasi dengan third person omniscient pada Tuck Everlasting oleh Natalie Babbitt:

“At dawn, Mae Tuck set out on her horse for the wood at the edge of the village of Treegap. She was going there, as she did once every ten years, to meet her two sons, Miles and Jesse, and she was feeling at ease. At noon time, Winnie Foster, whose family owned the Treegap wood, lost her patience at last and decided to think about running away.”

Pada contoh di atas, narator tahu apa yang dirasakan oleh dua tokoh (Mae Tuck dan Winnies Foster) walaupun kedua tokoh tersebut tidak memberi tahukannya langsung.

    • Third person limited

Pada cerita dengan sudut pandang third person limited, narator ada di luar cerita tetapi tidak maha tahu. Narator hanya tahu pikiran, perasaan, dan motif satu tokoh saja dalam keseluruhan cerita atau dalam satu adegan. Pada intinya, narator tidak mengetahui pikiran, perasaan, dan motif semua tokoh dalam satu adegan sekaligus.

Contoh narasi dengan third person limited pada novel a Storm Swords oleh Geaorge R. R. Martin:

“He could hear birds singing, and feel the river moving beneath the boat as the sweep of the oars sent them towards the pale pink dawn. After so long in darkness, the world was so sweet that Jaime Lannister felt dizzy… . He amused himself by picturing her in one of Cersei’s silken gowns in place of her studded leather jerkin.”

Pada contoh di atas narator hanya menceritakan apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh satu tokoh (Jaime Lannister).