sederet kamus
Translate: Tutorial:

Miskin ya? (Polite Ways Saying ‘Poor’)

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat dilepaskan dari saling membantu satu sama lain. Selain sebagai makhluk sosial, kita manusia juga berangkat dari berbagai macam golongan, status, dan berbagai macam jenis pekerjaan.

Namun, tidak semua dari kita bisa seberuntung itu. Ada banyak dari kita yang justru hidup dalam keadaan serba kekurangan, memiliki status yang dianggap rendah di masyarakat, dan tidak memiliki pekerjaan sama sekali. Orang-orang tersebut sangat membutuhkan bantuan.

Pada umumnya, sebutan yang biasanya kita ucapkan untuk merujuk pada orang-orang dengan kondisi seperti yang dideskripsikan di atas dengan “miskin”. Sekarang, apakah “miskin” adalah kata yang layak diucapkan, terutama dalam situasi-situasi formal dan kita sedang berada dalam ruang publik?

Tentu saja hal demikian sangat tidak sopan.

Ada banyak frasa atau ekspresi alternatif yang dapat kita ucapkan, daripada mengatakan “miskin”. Frasa atau ekspresi alternatif ini, walau bagaimanapun, haruslah terdengar sopan dan ramah di telinga. Mengapa harus seperti itu? Hal ini harus kita lakukan agar tidak menyinggung atau melukai perasaan orang lain, terutama orang yang sedang dalam kesusahan.

Lalu, bagaimana dengan Bahasa Inggris? Bukankah akan terdengar tidak sopan apabila kita mengatakan “poor” untuk merujuk pada orang yang sedang kekurangan?

Dalam Bahasa Inggris sendiri, kata “poor” yang memang berarti miskin memang merujuk pada orang dengan kondisi demikian. Namun, seperti halnya dalam Bahasa Indonesia, ada frasa atau ekspresi alternatif dalam Bahasa Inggris yang dapat kita gunakan, dan terdengar lebih sopan dan bersahabat.

Itulah yang akan kita kupas dan bahas.

Alternative, Friendly, and Polite Words We may Say Instead of “Poor” (Kata-Kata Alternatif yang Ramah dan Sopan yang Dapat Kita Katakan Ketimbang “Miskin”)

Artikel kali ini akan membahas contoh frasa atau ekspresi alternatif yang lebih sopan dan bersahabat, yang dapat kita gunakan manakala sedang bersinggungan dengan orang-orang dengan kondisi kekurangan. Dalam artikel ini juga, kita akan memerhatikan bagaimana ekspresi alternatif ini digunakan dalam kehidupan sehari-sehari?

Are you ready? Apakah kalian sudah siap? Mari kita mulai pembahasan artikel ini!

  • Less fortunate people (orang-orang yang kurang beruntung)

Frasa alternatif pertama yang dapat kita ucapkan adalah “less fortunate people” atau yang dapat diartikan sebagai “orang-orang yang kurang beruntung” dalam Bahasa Indonesia. Dalam berbagai macam situasi, frasa ini masih terbilang formal dan sopan. Untuk frasa ini sendiri, kita dapat mengganti subyek sesuai situasi, apakah yang kita jumpai hanya seorang saja atau lebih dari seorang.

Sekarang, mari kita perhatikan penggunaan frasa ini dalam contoh percakapan sehari-hari.

Irina: Look at those people, asking for money from all the vehicles at the traffic light. Being so poor that it drives them to do that.

Luna: Hush, watch your words! Saying something like “poor” can be rude, Irina! What if they can hear you? They will be hurt because of that word, especially if their state right now is not something they ask for. You can say that they are less fortunate people as an alternative. That sounds friendlier.

Irina: I… I did not realize that one word can hurt so many people. My fault, Luna. i apologize. I will educate myself to not say that word again.

(Irina: Lihat orang-orang itu, meminta uang dari semua kendaraan di lampu lalu lintas. Saking miskinnya mereka sampai mau melakukan hal seperti itu.

Luna: Hus, jaga perkataanmu! Mengatakan sesuatu seperti “miskin” bisa dibilang kasar, Irina! Bagaimana kalau mereka bisa mendengarmu? Mereka akan tersakiti oleh ucapan seperti itu, apalagi kalau kondisi mereka sekarang bukanlah sesuatu yang mereka inginkan. Kamu bisa mengatakan mereka adalah orang-orang yang kurang beruntung sebagai alternatif. Kalimat itu terdengar lebih ramah.

Irina: Aku… Aku tidak sadar bahwa satu kata dapat menyakiti banyak orang. Salahku, Luna. Aku minta maaf. Aku akan mengajari diri sendiri untuk tidak mengucapkan kata itu lagi.)

  • They are penniless (mereka sangat tidak mempunyai uang)

Frasa alternatif kedua yang dapat kita ucapkan untuk menggantikan kata miskin adalah “they are penniless” atau yang dapat kita artikan sebagai “mereka sangat tidak mempunyai uang” dalam Bahasa Indonesia. Kata penniless sendiri cukup umum digunakan dan masih terbilang sopan. Mirip dengan frasa pertama, kita dapat mengganti subyek sesuai dengan kondisi dan situasi, apakah subyek adalah satu orang saja atau lebih dari satu orang.

Bagaimanakah frasa ini digunakan? Mari perhatikan contoh berikut:

Luca: Annie! Did you… just give that old man your money?

Annie: Yes? Is that something I should not do?

Luca: I think so. Letting that old man having your money will make him lazy to find a job.

Annie: Oh, Luca! That is totally fine with me. And, I just want to help that old man as he is penniless.

Luca: I… see. I am so sorry for misunderstanding you, Annie. You really have a big heart.

Annie: No problem, Luca.

(Luca: Annie! Apakah kau… baru saja memberi uang pada pria tua itu?

Annie: Ya? Apakah itu sesuatu yang tidak boleh kulakukan?

Luca: Menurutku begitu. Membiarkan pria tua itu memiliki uangmu akan membuatnya malas mencari pekerjaan.

Annie: Oh, Luca! Bagiku sungguh tak apa-apa. Dan, aku hanya ingin menolong pria tua itu karena ia sangat tidak mempunyai uang.

Luca: Aku… paham. Aku sangat meminta maaf sudah salah paham terhadapmu, Annie. Kau sungguh memiliki hati yang besar.

Annie: Tidak masalah, Luca.)

  • Homeless person/people (orang-orang yang tidak memiliki hunian/rumah; tunawisma)

Frasa alternatif ketiga ini dapat kita gunakan ketika berjumpa dengan seseorang yang tidak memiliki rumah tinggal tetap dan biasanya tidur di pinggir jalan atau kolong jembatan. Frasa ketiga ini adalah “homeless person/people” atau “orang-orang yang tidak memiliki hunian/rumah” atau bisa juga diartikan sebagai “tunawisma” dalam Bahasa Indonesia.

Berikut contoh penggunaan frasa ini dalam kehidupan sehari-sehari.

Yudi: Dad! Dad!

Father: Yes, Yudi?

Yudi: what is wrong with those people, Dad? It’s night already, but those people still stay in the sidewalk. It seems like they don’t have a house to go back to.

Father: They are homeless people, Yudi. Yes, it means they don’t have a permanent house to go back to.

Yudi: Is that so? How unfortunate! Dad, can we go back home to find some old, nice blankets we don’t use anymore? I want to give the blankets to them, so they won’t feel cold when midnight arrives.

Father: Sure we can. I am so proud of you, Yudi. You’re a kind boy.

(Yudi: Yah! Ayah!

Ayah: Ya, Yudi?

Yudi: Ada apa dengan orang-orang itu, Ayah? Ini sudah malam, tetapi mereka masih duduk saja di pinggir jalan itu. Mereka seperti tidak punya rumah untuk pulang.

Ayah: Mereka itu tunawisma, Yudi. Ya, itu artinya mereka tidak memiliki rumah tetap untuk pulang.

Yudi: Benarkah? Kasihan sekali! Ayah, bolehkah kita pulang ke rumah dan mencari selimut-selimut lama yang sudah tak terpakai, tetapi kondisinya masih bagus? Aku ingin memberi semua selimut itu kepada mereka, supaya mereka tidak kedinginan saat tengah malam datang.

Ayah: Tentu saja boleh. Ayah sangat bangga denganmu, Yudi. Kamu anak yang baik.)

  • The indigent pepole (orang-orang yang butuh untuk ditolong)

Frasa alternatif keempat yang lebih sopan dan ramah yang dapat kita gunakan jika menyangkut orang-orang yang kekurangan adalah “the indigent people” atau yang biasanya juga disebut “the indigent”. Kata ini dapat kita terjemahkan dalam Bahasa Indonesia sebagai “orang-orang yang butuh untuk ditolong”.

Contoh penggunaan:

Gayatri: So, ladies, this month our main project is to give some things to the indigent, as they are the people who need it the most. You may donate your unused but still nice clothes, foods, and other goodies.

Sartika: I will give them my unused clothes. They are in a nice condition.

Meutia: I am probably going to donate foods, like instant noodles. I don’t know, I’m still confused for now.

Gayatri: It’s fine. Once you know what you want to give, just call me and you can deliver your donation to my house.

Meutia: Noted! I will call you once I figure it out, Gayatri!

(Gayatri: Jadi, teman-teman sekalian, proyek utama kita untuk bulan ini adalah memberikan berbagai macam barang untuk mereka yang butuh untuk ditolong, karena merekalah yang paling membutuhkan barang-barang tersebut. Kalian boleh mendonasikan pakaian yang sudah tak terpakai namun masih bagus, makanan, dan barang-barang lainnya.

Sartika: Aku akan memberi pakaian-pakaian yang sudah tak terpakai. Semua pakaian itu masih bagus dan layak.

Meutia: Aku mungkin akan mendonasikan makanan, seperti mi instan. Entahlah, aku masih bingung untuk sekarang.

Gayatri: Bukan masalah. Saat kamu tahu akan menyumbangkan apa, langsung saja hubungi aku dan antarkan donasimu ke rumahku.

Meutia: Baiklah! Akan kuhubungi kau begitu aku tahu apa yang akan kusumbangkan, Gayatri!)

  • Destitute people (orang-orang yang kurang mampu)

Frasa alternatif kelima yang dapat digunakan untuk merujuk kepada orang-orang yang kekurangan adalah “destitute people” atau yang dapat diterjemahkan dengan “orang-orang yang kurang mampu”. Berikut contoh penggunaan frasa ini dalam percakapan:

Ingrid: Now that we gather here in your house, you can tell us why you want us to come to your house, Tasha.

Saul: I thank you, all of you, very much. These donation mean a lot to my family, a destitute people.

Ingrid: We want to help you and return the favor, Mr. Saul. You did a lot to our community. Remember when you and your son helped us catch a thief who tried to steal from Carmen Gomez’s house?

Saul: Ah, yes. I remember that. He was tough, that thief. He almost hurt my son.

Ingrid: See? We will never forget that, especially Carmen and her family. Hence, that’s the main reason we’re here with all these things.

Saul: Thank you. May God bless your big hearts.

(Saul: Aku sungguh berterimakasih kepada kalian semua. Donasi ini sangat berarti untuk keluargaku, orang-orang yang kurang mampu.

Ingrid: Kami ingin membantu dan membalas budi, Pak Saul. Anda telah melakukan banyak hal untuk komunitas kita. Ingatkah ketika Anda dan putra Anda membantu kami menangkap perampok yang mencoba merampok rumah Carmen Gomez?

Saul: Ah, ya. Aku ingat itu. Dia tangguh, si perampok itu. Hampir saja melukai putraku.

Ingrid: Lihat? Kami takkan pernah melupakannya, terutama Carmen dan keluarganya. Itulah alasan utama kami di sini dengan semua pemberian ini.

Saul: Terimakasih. Semoga Tuhan memberkati hati besar kalian.)

Itulah frasa-frasa alternatif yang dapat kita gunakan untuk orang-orang yang berkekurangan. Selamat belajar!