sederet kamus
Translate: Tutorial:

Penggunaan Was Vs Were

Kunci untuk memahami kapan penggunaan was atau were dalam kalimat adalah dengan menentukan apakah Anda perlu menggunakan mood subjungtif atau tidak. Sebuah kata kerja dikatakan dalam mood subjungtif jika mengungkapkan tindakan atau keadaan yang bukan realitas. Misalnya, sesuatu yang bersifat hipotetis, diharapkan, atau dengan syarat.

Penggunaan “Was” dan “Were

Was dan Were, keduanya merupakan bentuk lampau atau Past Tense. Meski demikian, penggunaan Was dan Were cukup berbeda. Was digunakan bersama dengan subjek orang pertama tunggal (I) dan orang ketiga jamak (she, be, itu).

Sementara, Were digunakan bersama dengan subjek orang kedua tunggal dan jamak (you, your, dan yours), serta subjek orang pertama dan ketiga jamak (we, they). Berikut rangkumannya.

Bentuk tunggal (singular) I was, You were, She was, He was It was
Bentuk jamak (plural) You were, We were, They were

Perhatikan contoh kalimat berikut ini,

  • I was hiking to the Arjuna Mountain. (Saya sedang mendaki ke Gunung Arjuna).
  • You were driving to the park. (Kamu sedang mengendarai ke taman).
  • She was about to eat lunch. (Dia akan makan siang).
  • He was at the roller rink. (Dia berada di arena roller).
  • It was a great time. (Saat itu merupakan waktu yang tepat).
  • We were in the right spot. (Kita berada di titik yang tepat).
  • They were nowhere to be seen. (Mereka tidak terlihat dimana pun).

“Was” dan “Were” sebagai Bentuk Kata Kerja Lampau (Past Tense) dan Subjunctive

Untuk bisa memahami dengan lebih baik kapan was atau were akan digunakan dalam sebuah kalimat. Lebih dulu mari kita bandingkan antara kata kerja lampau dengan konjugasi subjungtif.

Past tense of to be I Was you were She was He was It was You were We were They were
Subjunctive of to be I were You were She were He were It were You were We were They were

Tabel diatas mengungkapkan perbedaan penggunaan Was dan Were dengan jelas dan mudah dipahami. Dengan demikian kamu tak akan keliru lagi menggunakan subjek orang kedua (You), kata ganti orang pertama jamak (we), kata ganti orang kedua jamak (You), atau kata ganti orang ketiga jamak (they). Kita hanya perlu membuat pilihan tentang kapan harus menggunakan was atau were dengan subjek orang pertama tunggal (I) dan kata ganti orang ketiga tunggal (he, she, atau it).

Mana yang benar, If I Was atau If I Were?

Banyak yang mungkin sedikit kebingungan dengan penggunaan Was dan Were. Sebetulnya, yang kedua kata tersebut agak sulit dibedakan ialah pada penggunaannya dalam Subjunctive mood. Khususnya dengan frasa If I Was dan If I were.

Perhatikan contoh kalimat berikut

  • Salah: If I was a better pop singer, I could entertain more. (Jika saya adalah penyanyi pop yang lebih baik, saya bisa menghibur lebih banyak.)
  • Benar: I were a better pop singer, I could entertain more. (Jika saya menjadi penyanyi pop yang lebih baik, saya bisa menghibur lebih).

Kalimat dengan Mood Subjunctive

Mood Subjunctive merupakan bentuk dari kata kerja (verb) yang digunakan untuk membuat kalimat tidak nyata atau  hipotesis. Kalimat dengan mood Subjunctive biasanya dibuat dengan beberapa frasa berikut, I were, she were, he were, it were, dan sebagainya. Kamu pasti pernah menggunakan beberapa kalimat penuh harap (wishful), berikut contohnya.

  • I wish I weren’t so scary. (Saya berharap saya tidak begitu takut.)
  • I wish it were warmer outside. (Saya harap lebih hangat di luar.)
  • If I were taller, I could dunk a basketball. (Jika saya lebih tinggi, saya bisa memasukkan bola basket).
  • If Brian were a rich man, he could drive a fancy car. ( Jika Brian seorang yang kaya, dia bisa saja mengendarai mobil yang mewah).
  • She acts as if she were the one in charge. (Dia bertindak seolah-olah dia satu-satunya yang bertanggung jawab).
  • Lala spends money as if she were a millionaire. (Lala menghabiskan uang seolah-olah dia seorang jutawan).

Contoh kalimat di atas menggambarkan situasi yang bukan sebenarnya. Di dua kalimat pertama menggambarkan sebuah harapan atau keinginan. Sementara, kalimat selanjutnya mengungkapkan suatu angan-angan atau impian. Dan di dua kalimat terakhir menunjukan pernyataan yang tidak nyata.

Kapan harus menggunakan Were

Penggunaan were dalam kalimat biasanya digunakan untuk menunjukan pengandaian. Atau sesuatu yang diinginkan. Perhatikan contoh kalimat berikut.

  • If I were a rich man, I’d build a big house (Jika saya orang kaya, saya akan membangun rumah yang besar).
  • If I were a wealthy man, I wouldn’t have to work hard anymore. (Jika saya seorang yang kaya raya, saya tidak perlu bekerja keras lagi.)

Kalimat diatas menunjukkan sebuah impian jika menjadi seorang yang kaya. Artinya subjek merasa tidak kaya dan ia hanya berandai-andai. Sehingga kata yang digunakan ialah If I were dan bukan If I was.

Kapan Harus Menggunakan Was

Jika were digunakan dalam kalimat yang menyatakan sesuatu hal yang bukan realita sesungguhnya. Maka was justru digunakan untuk menunjukan yang sebaliknya. Was, digunakan untuk menyatakan sebuah hal yang sesungguhnya. Perhatikan contoh kalimat berikut.

  • Last night, I was reading a book until midnight. (Tadi malam, saya membaca buku sampai tengah malam).
  • When I was kid, I wanted to be a football player. (Ketika saya masih anak-anak, saya ingin menjadi seorang pemain sepakbola).
  • Your sister was my college roommate. (Kakakmu adalah teman sekamarku saat kuliah).